Alasan Dokter Negara Maju "Pelit" Memberikan Obat ke Anak

24 Mei 2016 02:32 | Pengasuhan Anak

Argumen Dokter Negara Maju " Pelit " Memberi Obat ke Anak Belum satu bulan saya tinggal di Belanda, serta putraku Malik terserang demam tinggi. Sesudah tiga hari tidak ada perbaikan saya membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol. " Juicet wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection. " kata dokter tua itu. " Ha? Juicet wait and see? " batinku meradang. Ya, saya tahu sih masihlah susah untuk memastikan diagnosis pada masalah demam tiga hari tidak ada tanda-tanda lain. Namun masak sih tidak diapa-apain. " Obat penurun panas Dok? " tanyaku lagi. " Actually that is not necessary if the fever below 40 C. " Sebenarnya dirumah saya telah berikan Malik obat penurun panas, namun saya menginginkan dokter itu berikan obat lain. Telah lama kudengar kalau dokter di sini pelit obat. Karenanya, saya membawa obat dari Indonesia. Dua hari lalu, demam Malik tidak kunjung turun serta frekwensi muntahnya jadi tambah. Saya kembali pada dokter. Dia tetaplah menyuruhku wait and see. Kontrol laboratorium bakal dikerjakan apabila panas anakku menetap sampai hari ke tujuh. " Anakku ini sukai muntah-muntah juga Dok, " kataku. Lantas si dokter menekan-nekan perut anakku. " Apakah dia telah minum satu obat? " Eh tidak tahunya mendengar jawabanku, si dokter jadi ngomel-ngomel, " Mengapa anda kasih syrup Ibuprofen? Layak saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu baiknya tak diberikan untuk anak-anak, lantaran dampaknya dapat menghematasi lambung. Untuk anak-anak tambah baik berikan paracetamol saja. " Huuh! Meskipun dokter itu mengomel sembari tersenyum ramah, namun saya kesal dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Setibanya di rumah, suamiku segera jadi korban kekesalanku. " Lha wong di Indonesia, dosenku saja ngasih obat penurun panas tidak pakai diukur suhunya. Ingin 37, 38 apa 39 derajat, setiap ke dokter serta katakan anakku sakit panas, penurun panas ya tentu diberi. Saat dia katakan ibuprofen tidak baik buat anak! " Pada saat praktik jadi dokter dahulu, saya semakin banyak mencontek yang dikerjakan senior. Tiga bln. jadi co-asisten dibagian anak memanglah membuatku kelimpungan serta belajar beberapa hal, namun secuil-secuil pengetahuan kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, lalu tiga hari berkunjung ke Vienna. Senang berdiam di Berlin serta Swiss, saat habis. Tibalah waktu pulang ke Indonesia. Nampaknya orang itu telah keliling Eropa, walau sebenarnya ia cuma berkunjung ke ibukota paling utama. Banyak negara serta kota di Eropa belum disambangi. Tersebut kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Jadi yang kami tekuni dahulu, kasusnya tidak pernah kami temui dalam praktik keseharian. Mengharapkan dapat memberi resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior! Sesudah Malik pulih, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tidak hilang serta ingusnya masihlah meler. Lima hari lalu, Lala kubawa ke huisart. " Juicet drink a lot, " tuturnya enteng. " Apa tidak butuh diberi antibiotik Dok? " tanyaku tidak senang. " This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik, " jawabnya lagi. Lantas ngapain dong saya ke dokter, setiap ke dokter pulang tidak pernah diberi obat. Paling tidak kasih vitamin keq! " Ya telah beli saja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat banyak juga. " Nyatanya isi obat Thyme itu cuma ekstrak daun thyme serta madu. Waktu itu saya memanglah belum mempunyai saat untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, langkah berobat yang benar yaitu seperti di Indonesia. Putriku pulih. Satu bulan lalu sakit lagi. Batuk pilek putriku kesempatan ini enteng, namun nyaris dua bln. sekali ia sakit. Dua bln. sekali memanglah lebih mendingan lantaran di Indonesia dahulu, nyaris setiap dua minggu ia sakit. " Dok anak ini koq sakit batuk pilek terus-terusan ya? " Sesudah dengarkan dada putriku dengan stetoskop, lihat tonsilnya, serta lubang hidungnya, huisart-ku menjawab, " Nothing to worry. Juicet a viral infection. " " Namun Dok, dia kerap banget sakit, nyaris setiap satu bulan atau dua bln. Dok, " Dokter tua yang sebenarnya baik serta ramah itu tersenyum. " Do you know how many times normally children get sick every year? " " Twelve time in a year, researcher said, " tuturnya sembari tersenyum lebar. " Sebenarnya anda tidak butuh ke dokter bila penyakit anakmu tidak sangat berat, " sambungnya. Saya pulang dengan perasaan malu. Mungkin si dokter benar, saya sampai kini kurang belajar. Sesudah saya menyesuaikan dengan kehidupan di Belanda, saya berhubungan dengan internet. Saya temukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, pakar obat-obatan Fakultas Kedokteran UI. " Batuk - pilek beserta demam yang berlangsung 6 - 12 bln. masihlah lumrah. observasi tunjukkan kunjungan ke dokter berlangsung 2 - 3 minggu sepanjang bertahun-tahun. " " Apabila ini yang berlangsung, jadi ada dua peluang kesalahkaprahan perlakuannya, Pertama, obat diberikan senantiasa mengandung antibiotik. Walau sebenarnya 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa ada demam dikarenakan oleh virus, serta antibiotik tidak bisa membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik jadi membunuh kuman baik pada badan, yang berperan melindungi keseimbangan serta menghindari kuman jahat menyerang badan. Ia juga kurangi imunitas si anak, hingga daya tahannya alami penurunan. Mengakibatkan anak jatuh sakit tiap-tiap 2 - 3 minggu serta butuh berobat lagi. Duuh…kemana saja saya sampai kini. Eh.. sebenarnya.. bukanlah salahku dong. Saya kan telah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!. Di Belanda 'dipaksa' tidak pernah memperoleh antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, keadaan anakku jauh tambah baik. Mereka tidak sering sakit. Saya tercenung mengingat 'pengobatan rasional'. Hey! Lantas kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tak mempelajari baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit berikan obat penurun panas, sedikit-sedikit berikan antibiotik, baru satu hari atau dua hari anak alami sakit enteng saya cemas serta membawa ke dokter, sedikit-sedikit berikan vitamin. Rupanya yaitu aksi yang sekalipun tak rasional! System kesehatan Belanda mengaplikasikan benar apakah itu penyembuhan rasional. Saya baru tahu ibuprofen memanglah lebih efisien turunkan demam pada anak, hingga banyak negara termasuk juga Amerika Serikat, digunakan dengan cara luas untuk anakanak. Namun kemungkinan dampaknya semakin besar, Belgia serta Belanda mengambil keputusan kebijakan lain. Meskipun obat ibuprofen ada di apotek serta bisa dipakai umur anak di atas 6 bln., di ke-2 negara ini, parasetamol tetaplah dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.

Jadi, bagaimana dengan beberapa orang-tua di Indonesia? Saya tidak menginginkan bicara sangat jauh masalah mereka-mereka yang tinggal di desa atau beberapa orang yang terpinggirkan. Lantaran kekurangan serta ketakmampuan, penyakit anak keseharian, orang desa relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tidak butuh. Sesaat kita yang tinggal di kota besar, cukup berduit, melek sekolah, internet serta pengetahuan, jadi umumnya senantiasa dokter-minded serta mudah jadikan tujuan oleh perusahaan obat serta media. Bila pergi ke dokter lantas tidak di beri obat, umumnya kita jadi ngomel-ngomel, 'memaksa' supaya si dokter memberi obat. Iklan-iklan obat juga bertebaran di media, bahkan juga seringkali dokter-dokter 'menjual' obat spesifik lewat media. Walau sebenarnya harusnya dokter dilarang mengiklankan satu product obat. Serta bagaimana juga dengan rekan-rekan sejawatku serta dosen-dosenku yang sering memberi antibiotik serta obat-obatan yang tak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Jadi saya sendiri dahulu juga mengerjakannya lantaran nyontek senior. Apakah faedahnya semakin besar dibanding resikonya? Sudah pasti tak. Cost penyembuhan membengkak, anak jadi mudah sakit serta terkena obat yang tidak butuh. Belum lagi bahaya besar terang meneror semua umat manusia : superbug, resitensi antibiotik! Namun kenapa semuanya berlangsung? Duuh Tuhan, saya tahu sebenarnya Engkau tidak suka pada suatu hal yang percuma serta tidak ada faedahnya. Tetapi sampai kini saya sudah alpa. Sebagai orang-tua, bahkan juga saya sendiri yang mengakui lulusan fakultas kedokteran ini, sudah terlena serta tidak mengerti semua. Saya tidak bakal eling bila saya tak melihat sendiri serta tak tinggal di negeri kompeni ini. Terlebih dengan orang-orang pemula, beberapa orang-tua baru yang mempunyai anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai kesemrawutan ini semestinya? Pikirkannya saya seperti terjerumus ke lubang raksasa hitam. Saya tidak tahu, sungguh! Saya sadar. Sudah berlangsung kekeliruan paradigma pada umumnya kita di Indonesia dalam hadapi anak sakit. Di sini saya kerap pulang dari dokter tanpa ada membawa obat. Saya ke dokter umumnya 'hanya' konsultasi, meyakinkan diagnosis penyakit serta perlakuan terbaiknya, dan memberikan keyakinan diriku kalau anakku baik-baik saja. Di Indonesia, ke dokter = bisa obat? System kesehatan di Indonesia memanglah masihlah ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tidak ada ketentuan serta hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter juga bebas meresepkan obat apa sajakah tanpa ada ngeri memperoleh ragu. Lantas di mana ujung pangkal kelirunya? Sia-sia mencari-cari ujung pangkal kelirunya. Keadaan itu terang tidak dapat dilewatkan. Siapa yang perlu mengawali pergantian? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, pasti semuanya mesti beralih. Tetapi, dalam keadaan seperti ini, menginginkan pergantian kebijakan pemerintah kurun waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bln.. Sebagai pasien kita juga tidak dapat tinggal diam. Sekurang-kurangnya, apabila pasien 'bergerak', permasalahan kesehatan di Indonesia, intinya peristiwa penggunaan obat yg tidak rasional serta kekeliruan medis pasti dapat di turunkan. Diambil dari buku " Smart Patient " karya dr. Agnes Tri Harjaningrum Mudah-mudahan membuat cerah ya bunda-bunda, saya dapetnya dari artikel suami.